MODEL DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
INTISARI DARI MAKALAH KELOMPOK IV
MODEL DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. Hakekat Pendekatan/ Model Pengembangan Kurikulum
Pengertia Pendekatan Menurut KBBI
Kontruksi yang bersifat teoritis dari konsep, pendekatan adalah proses, metode atau cara untuk mencapai sesuatu. Dikaitkan dengan pengembangan kurikulum memiliki arti sebagai suatu proses, metode atau cara yang ditempuh oleh para pengembang kurikulum untuk menghasilkan suatu kurikulum yang akan dijadikan pedoman pendidikan atau pembelajaran.
Pendekatan Dapat Diartikan:
Sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.
B. Pendekatan Administratif US Grass Roots Dalam Pengembangan Kurikulum
1. Pendekatan Top Down
Pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau daripada pemenang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti dirjen.
Prosedur Kerja Atau Proses Pengembangan Kurikulum Model Ini Dilakukan Sbb:
a. Dimulai dengan pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri atas pejabat yang ada dibawahnya. Seperti pengawas pendidikan, ahli kurikulum ahli disiplin dan bisa juga ditambah dengan para tokoh dari dunia kerja.
b. Menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Tugas pokok tim ini adalah, merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan alat atau petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.
Dari langkah-langkah pengembangan seperti yang telah dikemukakan diatas, maka tampak jelas bahwa inisiatif pemegang kebijakan kurikulum, atau para pejabat yang berhubungan dengan pendidikan, sedangkan tugas guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan. Oleh karena itu, proses pengembangan dengan pendekatan top down dinamakan juga pendekatan dengan sistem komando.
2. Pendekatan Grass Roots
Inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, makanya pendekatan ini dinamakan juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.
a. Manakala kurikulum itu benar-benar bersifat lentur sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan.
b. Pendekatan Grass Roots hanya mungkin terjadi manakala guna memiliki sikap profesional itu biasanya ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan mencoba sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan kerjanya akan berusaha menambah wawasan dan pengetahuannya.
Beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat kita lakukan manakala menggunakan pendekatan Grass Rooth ini.
Menyadari adanya masalah, adanya keresaha guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya, ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau kegiatan evaluasi seperti yang diharapkan
Mengadakan refleksi. Jika kita merasakan ada masalah maka kita akan berusaha mencari penyebab munculnya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian yang relevan dengan pendahuluan.
3. Pendekatan Sentral - Desentral
Merupakan proses pengembangan kurikulum yang menggabungkan kedua pendekatan tersebut diatas, yaitu: menyatukan pendekatan administratif dan pendekatan grass roots. Dalam pendekatan sentral-desentral antara pemimpin dipusat pemilik bekerjasama dengan pihak dibawah (sekolah, guru dan para stakeholider) sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing berkolaborasi mengembangkan kurikulum (merancang, melaksanakan, dan mengontrol). Pendekatan sentral-desentral dapat menjadi solusi alternatif untuk memperkecil permasalahan-permasalahan yang ditempuh melalui pendekatan administratif maupun grass roots.
Kelemahannya adalah:
Kurikulum sentralistik tidak dapat mengakomodasi seluruh keragaman wilayah suatu negara
Pemahaman kurikulum nasinal oleh seluruh wilayah tanah air memerlukan waktu yang relatif lama
Penerapan kurikulum sentralisasi oleh wilayah yang sangat luas akan menghadapi banyak hambatan dan kemungkinan penyimpangan.
1) Desentralisasi Pendidikan
Konsep desentralisasi dalam praktek pendidikan di indonesia dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama desentralisasi struktural: pemerintah pusat menyerahkan segala wewenang pengurusan pendidikan kepada pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten. Kedua: desentralisasi manajerial: yaitu pemerintah pusat atau pemerintah daerah menyerahkan sepenuhnya penyelenggara pendidikan kepada sekolah.
2) Hubungan Desentralisasi Pendidikan Dengan Kurikulum
Munculnya desentralisasi sekolah berdasarkan asumsi adanya hubungan positif antara desentralisasi sekolah ini berdasarkan asumsi adanya hubungan positif antara desentralisasi sekolah dengan kualitas program pendidikannya (kurikulumnya). Jika statemen ini dibalik, maka akan berbunyi bahwa program pendidikan atau kurikulum akan berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat jika terjadi desentralisasi pendidikan sampai tingkat sekolah.
3) Pengembangan Kurikulum Dalam Era Desentralisasi
Pengembangan kurikulum pada era desentralisasi pendidikan tergantung pada model desentralisasi yang diterapkan, kurikulum pendidikan harus dipola ulang. Intisari dari desentralisasi pendidikan adalah diberikannya keleluasan penuh atau parsial kepada daerah atau sekolah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan komunitas sekolah tersebut.
Pendekatan atau model pengembangan kurikulum merupakan suatu proses atau prosedur kerja dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi suatu kurikulum. Terdapat beberapa pendekatan/ model pengembangan kurikulum yang diterapkan pada lembaga pendidikan di indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Andrianus Nababan dkk. 2022. Pengembangan Kurikulum PAK Berbasis Sekolah. Institut Agama Kristen Negeri Tarutung.
Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Grup
Hamalik, O. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran Edisi 1. In Bumi Aksara, Jakarta (p.81)